Beberapa minggu yang lalu di beberapa media cetak yang terbit di Provinsi Kepulauan Riau dapat kita baca adanya keluhan dari beberapa orang yang ikut operasi katarak mata masal gratis yang diadakan oleh Perdami Jawa Barat. Keluhan mereka yang tertulis di media cetak tersebut adalah tidak dapat melihat setelah dioperasi katarak masal Gratis. Di daerah lainpun pernah kita baca adanya komplain terhadap hasil operasi katarak gratis ini. Bahkan ada keluarga pasien yang menduga adanya tindakan malpraktek yang dilakukan oleh dokter mata.
Sebetulnya banyak penyebab atau keadaan yang dapat menyebabkan mata tidak melihat atau masih kabur setelah dioperasi katarak. Yang paling sering adalah suatu keadaan yang disebut dengan edema kornea sesudah operasi katarak. Keadaan ini dapat timbul akibat manipulasi yang berlebihan atau berlangsung lama dalam operasi katarak. Namun demikian dengan pemberian obat tetes mata keadaan ini dapat diatasi sehingga penglihatan jadi terang setelah kornea kembali menjadi jernih.
Penyebab yang sering juga menyebabkan mata tidak melihat atau masih kabur setelah operasi katarak adalah jahitan kornea yang terlalu kencang sehingga timbul suatu keadaan yang disebut dengan astigmatisma. Keadaan ini dapat diperbaiki dengan memutus jahitan kornea yang kencang tersebut setelah luka kornea menyatu yang biasanya terjadi setelah empat minggu.
Kondisi retina yang tidak bagus yang tidak terdeteksi sebelum operasi juga menyebabkan pasien tidak dapat melihat dengan jelas setelah operasi katarak. Keadaan ini tidak dapat dideteksi sebelum operasi karena biasanya pada operasi katarak masal gratis, keadaan katarak yang dioperasi adalah yang telah matang sehingga dokter mata tidak dapat menilai fungsi retina dengan baik.
Jadi dengan penjelasan ini diharapkan masyarakat jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa tidak dapat melihat dengan baik setelah operasi katarak masal gratis disebabkan kesalahan operasi atau operasi yang dilakukan secara tidak benar atau ceroboh.